Kamis, 27 November 2008

7 Martabat Nafsu

7 Martabat Nafsu



Para ulama tasawuf berpandangan bahwa, untuk peningkatan jiwa manusia dari tingkat rendah ke tingkat tinggi dan sempurna harus melalui 7 martabat nafsu, yaitu:
1. Nafsu Ammarah
2. Nafsu Lauwwamah
3. Nafsu Mulhamah
4. Nafsu Muthmainnah
5. Nafsu Radliyah
6. Nafsu Mardliyah
7. Nafsu Kamilah

Berikut analisa untuk masing-masing martabat nafsu tersebut:

1. Nafsu Ammarah
Perangai orang pada martabat nafsu ini selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan bisikan syetan. Karena itu nafsu ammarah ini kerjanya senantiasa menyuruh berbuat maksiat, baik ia tahu perbuatan itu jahat atau tidak. Bagi dia baik dan buruk adalah sama saja. Kejahatan dipandangnya tidak menjadikan apa-apa bila dikerjakan. Dia tidak mencela kejahatan, bahkan sebaliknya selalu sinis dan suka mencela segala bentuk kebaikan yang diperbuat orang lain. Nafsu ammarah ini adalah derajat yang paling rendah sekali, dan sangat berbahaya serta merugikan diri pribadi yang sekaligus akan menyeretnya ke lembah kehinaan.
Sebagian dari sifat-sifat orang pada martabat nafsu ammarah ini ialah:

  1. Bakhil atau kikir
  2. Tamak dan loba kepada harta benda
  3. Berlagak sombong dan takabbur (membanggakan diri)
  4. Suka bermegah-megahanan dan bermewah-mewahan
  5. Ingin namanya terkenal dan populer
  6. Hasad dan dengki
  7. Berniat jahat dan khianat
  8. Lupa kepada Allah SWT
  9. Dan lain-lain sifat tercela.

Orang pada martabat nafsu ammarah ini hendaknya selalu berdzikir “naif dan itsbat” dan banyak ingat kepada Allah ketika berdiri, duduk dan berbaring, disamping zikrul maut (ingat pada mati).

2. Nafsu Lauwamah
Orang pada martabat nafsu ini suka mengritik atau mencela kejahatan dan membencinya. Apabila ia terlanjur berbuat kejahatan, ia lekas menyadari dan menyesali dirinya. Memang dia menyukai perbuatan baik, tapi kebaikan ini tidak dapat dipertahankan secara terus menerus karena dalam hatinya masih bersarang maksiat-maksiat batin. Meskipun hal ini diketahuinya tercela dan tidak disukainya, namun selalu saja maksiat batin itu menyerangnya. Sehingga apabila kuat serangan maksiat batin itu, maka sekali-kali dia berbuat maksiat dzohir karena tidak mampu melawannya. Meskipun demikian dia tetap berusaha menuju keridhoan Allah sambil mengucap istighfar memohon ampun dan menyesal atas kemaksiatan yang diperbuatnya.
Diantara sifat-sifat tercela dari nafsu lauwamah ini adalah:

  1. Menyadari kesalahan diri atau menyesal berbuat kejahatan
  2. Timbul perasaan takut kalau bersalah
  3. Kritis terhadap apa saja yang dinamakan kejahatan
  4. Heran kepada diri sendiri, mengira dirinya lebih baik dari orang lain (ujub)
  5. Memperbuat suatu kebaikan agar dilihat dan dikagumi orang (riya’)
  6. Menceritakan kebaikan yang telah diperbuatnya supaya mendapat pujian orang (sum’ah)
  7. Dan lain-lain sifat tercela didalam hati.


Orang yang berada pada martabat nafsu lauwamah ini hendaklah memperbanyak dzikir qolbu atau hatim. Dzikir lisan atau lidah sudah berpindah masuk kedalam hati sehingga hati hidup bergerak dengan zikir tanpa menggunakan lidah lagi.

3. Nafsu Mulhamah
Martabat nafsu mulhamah ini adalah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses pensucian dari sifat-sifat hati yang kotor dan tercela melalui cara kehidupan orang-orang tasawwuf (sufi).
Orang pada martabat nafsu mulhamah ini boleh dikatakan baru mulai masuk tingkat kesucian, baru mulai mencapai fana, tetapi belum teguh dan mantap karena ada kemungkinan sifat-sifat terpuji itu akan lenyap dari dirinya.
Sifat-sifat yang timbul dari nafsu mulhamah ini antara lain:

  1. Tidak menyayangi harta benda (pemurah)
  2. Merasa cukup dengan apa yang ada (qona’ah)
  3. Mempunyai ilmu laduni, yaitu ilmu yang didapat dari ilham
  4. Timbul perasaan merendahkan diri kepada Allah (Tadlarru’)
  5. Taubat, memohon ampun kepada Allah dari dosa yang telah dikerjakan
  6. Sabar dalam segala hal yang menimpa
  7. Tenang menghadapi segala kesulitan

Orang yang telah mencapai martabat nafsu mulhamah ini hendaklah memperbanyak dzikir sir atau dzikir rahasia. Ketika berdzikir hendaklah menghadirkan “Wujud Allah” yang mutlak, karena tiada wujud yang mutlak melainkan Allah.

4. Nafsu Muthmainnah
Apabila orang pada martabat nafsu mulhamah tetap dalam proses mencapai maqam haqikat dan ma’rifat, maka akan melekatlah di lubuk hatinya sifat-sifat terpuji itu, dan terkikis habislah sifat-sifat yang tercela. Maka pada waktu itulah dia masuk ke dalam martabat nafsu muthmainnah. Nafsu ini adalah sebagai permulaan mencapat derajat shufi atau wali.
Orang yang telah mencapai martabat nafsu ini senantiasa merasa hatinya seolah-olah berada bersama Allah (Ma’allah).
Diantara sifat-sifat keruhanian yang timbul dari nafsu muthmainnah adalah:

  1. Pemurah dan suka bersedekah
  2. Menyerahkan diri kepada Allah (Tawakkal)
  3. Bersifat arif dan bijaksana
  4. Kuat beramal dan kekal mengerjakan sholat
  5. Mensyukuri ni’mat yang diperoleh dengan membesarkan Allah
  6. Menerima dengan rasa puas apa yang dianugerahkan Allah (ridho) menerima qodho dan qodar
  7. Takwa kepada Allah (Taqwallah)
  8. Dan lain-lain sifat yang mulia.

Inilah nafsu muthmainnah, nafsu yang tenang, yang diseru Allah masuk ke dalam Surga-Nya.
Orang yang telah berada pada martabat nafsu ini dzikirnya tetap hidup dalam rahasia (sir) yaitu batin bagi ruh.

5. Nafsu Radhiyah
Martabat Nafsu radhiyah ini derajatnya lebih tinggi dari martabat nafsu muthmainnah. Nafsu radhiyah ini sangat dekat dengan Allah dan menerima dengan perasaan ridho segala hukum Allah. Karena itu segala problema kehidupan duniawi sama saja bagi para wali martabat nafsu rahiyah ini. Nilai uang sama saja dengan kertas biasa. Mereka tidak takut atau khawatir kepada siapapun yang akan mengganggu, dan tidak pula bersedih hati atas segala penderitaan sebagaimana kesedihannya yang diderita orang-orang awam.
Sifat-sifat keruhanian yang timbul dari nafsu radhiyah ini antara lain adalah:

  1. Zuhud dari dunia
  2. Ikhlas kepada Allah
  3. Wara’ dalam ibadat
  4. Meninggalkan segala sesuatu yang bukan pekerjaannya
  5. Menunaikan dan menetapkan hukum-hukum Allah
  6. Dan lain-lain perangai mulia dan terpuji

Hati orang yang telah mencapai martabat nafsu radhiyah ini senantiasa merasa seolah-olah ia berada dalam Allah (Fillah).

Dzikir orang martabat ini tetap hidup dalam persembunyian rahasia (sirrus sirr).

6. Nafsu Mardliyah
Martabat nafsu mardliyah ini lebih tinggi dari martabat nafsu radliyah, karena segala perilaku orang nafsu ini, baik perkataan maupun perbuatan adalah diridhoi Allah dan diakui-Nya. Oleh karena itu, jadilah jiwanya, perasaannya, lintasan hatinya, gerak-geriknya, pendengarannya, penglihatannya, perkataannya, gerak kaki dan tangannya, kesemuanya itu adalah diridhoi Allah belaka.
Diantara sifat-sifat akhlak mulia dan terpuji yang timbul dari martabat nafsu ini adalah sebagai berikut:

  1. Baik budi pekertinya seperti akhlak Nabi-nabi
  2. Ramah tamah dalam pergaulan dengan masyarakat sebagaimana perangai para Nabi
  3. Senantiasa merasa berdampingan dengan Allah
  4. Selalu berfikir pada kebesaran Allah
  5. Ridho dengan apa saja pemebrian Allah
  6. Dan lain-lain budi pekerti yang luhur dan terpuji

Dalam perjalanannya, hati orang martabat nafsu mardliyah ini seolah-olah merasa dalam keadaan dengan Allah semata-mata (Billah). Dan terus menerus mengambil ilmu daripada Allah. Setelah melalui martabat fana’, dia akan kembali ke maqam baqa. Dengan kata lain setelah ia sampai kepada Allah, maka kembali lagi kepada makhluk. Dan ketika itu dapatlah ia menceburkan diri dalam kehidupan masyarakat, memberi petunjuk dan menuntun ummat ke jalan syari’at agama Allah yang benar.
Dzikir orang martabat nafsu ini tetap hidup dalam persamadhian rahasia (khafi) yaitu batin bagi “sirrus sirri”.

7. Nafsu Kamilah
Martabat nafsu kamilah ini adalah nafsu yang tertinggi dan teristimewa dari maqam wali yang lain, karena ia dapat menghimpun antara bathin dan lahir antara hakikat dan syari’at. Karenanya dia dinamakan maqam “Baqa Billah” atau “Kamil Mukammil” atau “Insanul Kamil”. Jelasnya ruh dan hatinya “Kekal dengan Allah”, tetapi zhahir tubuh kasarnya bersama-sama dengan pergaulan masyarakat, menjadi pemimpin membina masyarakat ke arah jalan yang dirihoi Allah. Hati mereka kekal dengan Allah meskipun diwaktu tidur, karena mereka dapat musyahadah dengan Allah dalam setiap waktu. Maqam “Baqa Billah” ini tidak dapat dinilai dengan kebendaan berbentuk apa saja di alam ini, karena itu ia merupakan maqam khawasul khawas. Segala gerak gerik dan perilaku orang martabat nafsu kamilah ini adalah ibadat semata-mata.

Senin, 24 November 2008

Kebajikan Versus Kejahatan

Kebajikan (Fitrah Manusia)
Versus
Kejahatan (Hawa Nafsu)



Di dalam jiwa manusia senantiasa terjadi pertempuran antara kebajikan dan kejahatan. Kebajikan adalah fitrah manusia (tiupan ruh ilahi) yang dibawa sejak lahir yang tersimpan didalam lubuk hati manusia sedangkan kejahatan merupakan naluri atau keinginan (hawa nafsu) yang timbul akibat pengaruh dari lingkungan sekitarnya (bisikan syetan). Manakah diantara keduanya yang lebih dominan dalam menguasai jiwa manusia? Itulah yang akan membawa manusia kepada kebahagian ataukah kesengsaraan dalam hidupnya, baik didunia maupun diakhirat nanti. Berikut wakil-wakil kebajikan dan wakil-wakil kejahatan yang sama-sama ingin mengambil posisi dalam jiwa manusia.

No. Hawa Nafsu (Sifat-sifat Tercela) Vs Fitrah Manusia (Sifat-sifat Terpuji)
1. Kejahatan (Menteri Hawa Nafsu) Vs Kebajikan (Menteri Fitrah Manusia)
2. Kufur Vs Iman
3. Ingkar (Juhud) Vs Percaya (Tashdiq)
4. Bohong (Kidzb) Vs Jujur (Shidq)
5. Munafik Vs Tulus (Ikhlas)
6. Putus Asa (Qunuth) Vs Harapan (Raja’)
7. Kezaliman (Jaur) Vs Keadilan (‘Adl)
8. Tidak Rela/Murka (Sukhth) Vs Rela (Ridha)
9. Ingkar Nikmat (Kufran) Vs Syukur (Syukr)
10. Putus Ikhtiar (Ya’ss) Vs Gemar Kebaikan (Thama’)
11. Ambisius (Harsh) Vs Pasrah (Tawakal)
12. Berhati Keras (Ghirrah) Vs Lemah Lembut (Ra’fah)
13. Amarah (Ghadhab) Vs Kasih Sayang (Rahmah)
14. Bodoh (Jahl) Vs Ilmu (‘Ilm)
15. Dungu (Humq) Vs Cerdik (Fahm)
16. Ceroboh (Tahattuk) Vs Menjaga Diri (‘Iffah)
17. Hasrat (Raghbah) Vs Zuhud
18. Kasar (Kharq) Vs Sopan (Rifq)
19. Gegabah (Jur’ah) Vs Waspada (Rahbah)
20. Sombong (Takabur) Vs Rendah Hati (Tawadhu’)
21. Tergesa-gesa (Tasarru’) Vs Tenang (Ta’uddah)
22. Konyol (Safah) Vs Bijaksana (Hilm)
23. Pengoceh (Hadzar) Vs Pendiam (Shamt)
24. Menentang (Istikbar) Vs Menyerah (Istislam)
25. Membandel (Tajabbur) Vs Mengalah (Taslim)
26. Menolak Vs Menerima
27. Dendam Kesumat (Hiqd) Vs Maaf (‘Affwu)
28. Keras (Qaswah) Vs Lunak (Riqqah)
29. Ragu Vs Yakin
30. Meronta (Jaza’) Vs Sabar
31. Pendendam (Intiqam) Vs Pemaaf (Shafh)
32. Fakir Vs Kaya (Ghina)
33. Lalai (Sahw) Vs Tafakur
34. Lupa (Nisyan) Vs Hafal (Hifzh)
35. Pemutus (Qathi’ah) Vs Penyambung (Ta’aththuf)
36. Tertutup Vs Terbuka
37. Ingin Lebih (Hirsh) Vs Qana’ah
38. Isolasi Diri (Man’) Vs Emansipasi (Musawat)
39. Rasa Permusuhan (‘Adawah) Vs Rasa Sayang (Mawaddah)
40. Melepas (Ghadar) Vs Memegang (Wafa’)
41. Maksiat Vs Taat
42. Arogansi (Tathawul) Vs Rendah Hati (Khudhu’)
43. Pembangkang Vs Patuh
44. Bencana (Bala’) Vs Selamat
45. Marah (Ghadhab) Vs Cinta (Hubb)
46. Batil Vs Hak
47. Khianat Vs Amanah/Setia
48. Noda (Syaub) Vs Murni (Ikhlas)
49. Lamban (Baladah) Vs Cekatan (Syahamah)
40. Bodoh (Ghabawah) Vs Cendekia (Fahm)
41. Penyangkalan (Inkar) Vs Pengetahuan (Ma’rifah)
42. Cela Vs Mulia
43. Sakit Vs Sehat
44. Penyingkapan (Mukasyafah) Vs Pengukuhan (Madarah)
45. Makar Vs Menjaga Aib Orang
46. Ekspos (Ifsya’) Vs Menyimpan Rahasia (Kitman)
47. Penyia-nyian (Idha’ah) Vs Salat
48. Berbuka (Ifthar) Vs Puasa
49. Lari dari jihad (Nukul) Vs Jihad
50. Ingkar Janji Vs Haji
51. Membongkar skandal Vs Menjaga omongan
52. Durhaka Vs Berbakti kepada orang tua
53. Biadab Vs Beradab
54. Palsu (Riya’) Vs Realitas (Haqiqah)
55. Mungkar Vs Makruf
56. Bersolek (Tabarruj) Vs Menutup aurat (Satr)
57. Mengobral kata-kata (Idz’ah) Vs Menyembunyikan perkataan (Taqiyyah)
58. Fanatisme (Hamiyyah) Vs Jalan Tengah (Inshaf)
59. Onar (Baghi) Vs Kebaktian (Mihnah)
60. Kotor (Qadzir) Vs Bersih (Nazhafah)
61. Tidak tahu malu (Khal’) Vs Malu (Haya’)
62. Boros Vs Hemat
63. Tak terarah (‘Udwan) Vs Terarah (Qashd)
64. Lelah (Ta’ab) Vs Relaks (Rahah)
65. Kesukaran (Shu’ubah) Vs Kemudahan (Suhulah)
66. Binasa (Mahq) Vs Berkah
67. Petaka (Bala’) Vs Afiat
68. Berlebih (Mukatsarah) Vs Moderat (Qiwam)
69. Hawa Nafsu Vs Hikmah
70. Gamang Vs Teguh
71. Dangkal Vs Jauh kedepan
72. Ringan Vs Mantap
73. Nestapa (Syaqawah) Vs Bahagia (Sa’adah)
74. Keras kepala (Ishrar) Vs Tobat
75. Pongah (Ightirar) Vs Istigfar
76. Lengah (Tahawun) Vs Mawas Diri (Muhafadhah)
77. Meremehkan Vs Takut kepada Allah
78. Berpaling (Istinkaf) Vs Berdoa
79. Sedih Vs Gembira
80. Berpecah Belah Vs Bersatu
81. Angkuh (‘Ujub) Vs Khusyuk
82. Pandir Vs Cerdas
83. Malas (Kasal) Vs Aktif (Nasyath)
84. Duka (Huzn) Vs Suka (Farah)
85. Memecah belah (Firqah) Vs Menyatukan (Ulfah)
86. Kikir (Bukhl) Vs Dermawan (Sakha’)
87. Ketersembunyian Vs Kedudukan (Wagar)


Minggu, 23 November 2008

Jalan Hidayah


Definis Tasawuf
Tasawuf adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha Ada melalui proses penyucian hati dan mempermanisnya dengan amalan-amalan soleh.

Tahapan-tahapan dalam ilmu Tasawuf:
1. Ta’at Fis Syariat (Mentaati Hukum Suci)
2. Tazkiyat An-Nafs (Menundukkan Hawa Nafsu)
3. Thoharoh Al-Qolbu (Membersihkan Hati)
4. Tasfiyyah Ar-Ruh (Menguatkan Ruh)
5. Makrifatullah (Mengenal Allah)

Makrifatul Insan (Mengenal Manusia)
Manusia adalah makhluk dua dimensi yang terdiri dari aspek jasmani dan aspek rohani. Jasmani manusia sifatnya akan rusak, sedangkan rohani manusia akan tetap ada selamanya dan akan dimintakan pertanggung jawaban atas hidupnya. Dalam rohani manusia terkandung beberapa unsur, yaitu: Akal (Pikiran), Nafs (Jiwa), Qolbu (Hati) dan Ruh. Akal sebagai alat penimbang. Nafsu sebagai alat pendorong. Hati sebagai alat pemutus. Dan ruh sebagai alat hidup.

( I )
TA’AT FIS SYARIAT
(MENTAATI HUKUM SUCI)


Syariat adalah hukum ilahi yang telah diwahyukan kepada para nabi dan rasul, sebagai bimbingan-Nya untuk kemaslahatan umat manusia, dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pada masanya masing-masing sampai prosesnya mencapai titik kesempurnaan total pada masa Nabi Muhammad S.A.W. Jadi Syariat Islam adalah hukum Tuhan yang sempurna dan final yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W. yang berdasarkan pada hukum-hukum perilaku yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W. berupa perintah, larangan dan tuntunan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Adapaun tujuan pembebanan syariat itu sendiri salah satunya adalah sebagai pelindung dari batas-batas tata perilaku lahiriah manusia yang memungkinkan umat manusia untuk mengembangkan kesadarannya lebih tinggi lagi dan mendalami realitas batin (penyempurnaan jiwa) lebih jauh lagi.



( II )
TAZKIYYAT AN-NAFS
(MENUNDUKKAN HAWA NAFSU)



Hawa Nafsu adalah gabungan beberapa naluri yang bersemayam dalam jiwa manusia yang selalu menuntut manusia untuk memenuhi hasrat (keinginan)-nya. Disamping mempunyai peran sebagai penggerak dalam biduk kehidupan manusia, namun dengan terlalu hanyut dalam mengikuti semua ajakan hawa nafsu tanpa ada pengendalian dan pembatasan, akan dapat menutupi potensi fitrah manusia atau dengan kata lain akan dapat mengosongkan hati dari kecerdasan, kesadaran, hati nurani dan hidayah Allah SWT.

Dengan bantuan akal dan agama, hawa nafsu bisa ditundukkan (dilembutkan) dengan cara menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat/dosa atau istilah lainnya dengan menghindarkan diri dari larangan-larangan Allah SWT - (Mujahadah).
Maksiat/dosa ini terdiri dari dua macam: (1) Maksiat Dzohir dan (2) Maksiat Bathin.

(1) Maksiat Dzohir yaitu maksiat/dosa yang berasal dari 7 kejahatan anggota badan: 1. Mata; Melihat hal yang buruk/haram.
2. Telinga; Mendengarkan umpatan dan fitnah.
3. Lidah; Berdusta, Membicarakan kejelekan orang lain, Memfitnah, Menghasut, Mengumpat, Sumpah Palsu, Sihir.
4. Tangan; Membunuh, Memukul orang, Mencuri, Memegang yang terlarang.
5. Perut; Diisi dengan barang yang haram dan subhat, Memakan riba, harta anak yatim.
6. Kemaluan; Berzina dan Sodomi.
7. Kaki; Melangkah ke tempat maksiat.

(2) Maksiat Batin yaitu maksiat/dosa yang berasal dari sifat-sifat tercela (penyakit-penyakit jiwa), diantaranya:
· Takabbur / Sombong (Merasa diri lebih dari orang lain)
· Tamak / Serakah (Tidak pernah merasa puas dengan yang sudah diperoleh)
· Hasad / Iri Hati dan Dengki (Tidak senang akan nikmat dan kebahagiaan yang didapat oleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut)
· Nifaq / Berpura-pura (Perbuatan Tidak Sesuai Dengan Niat)
· Bakhil / Kikir (Mengumpulkan harta untuk kepentingan diri sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang lain)
· Ghodb / Marah (Gerakan nafsu seketika yang meluapkan darah jantung dari suruhan itu)
· Hiqdu / Dendam (Permusuhan dalam hati dan menunggu waktu untuk membalas sakit hati)
· Ujub (Bangga pada dirinya sendiri)
· Riya’ (Beramal agar dilihat orang) dan Sum’ah (Beramal agar didengar orang)
· Syirik (Menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain) dan Kufur (mengingkari rahmat (ni’mat) Allah yang telah terlimpah kepadanya)
· Fasiq (Meninggalkan perintah Allah, dan keluar dari jalan yang dibenarkan)
· Israf / Berlebih-lebihan (Menggunakan sesuatu dengan melampaui batas-batas yang patut)
· Zhalim (Menganiaya diri sendiri atau orang lain)



( III )
THOHAROH AL-QOLBU
(MEMBERSIHKAN HATI)



Hati (Qolbu) adalah sesuatu yang halus (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyah) dan keruhanian yang dapat menangkap segala rasa, mengetahui dan mengenal segala sesuatu.

Hati itu ada tiga macam:
· Pertama, hati yang hitam terbalik (Qolbun Mayyit), yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan sedikitpun.
· Kedua, hati yang didalamnya ada titik hitam (Qolbun Maridh), yang didalamnya bertarung antara kebaikan dan kejahatan.
· Ketiga, hati yang bersih/terbuka (Qolbun Salim), yang didalamnya ada lampu yang bersinar-sinar sampai hari kiamat.

Bila kita menginginkan hati yang terang benderang, maka hendaknya kita menjauhkan diri dari segala hal yang dapat menggelapkan hati (maksiat/dosa) dan mengerjakan amalan-amalan agama (perintah-perintah Allah SWT) yang dapat membersihkan hati (menghapus kotoran dosa) dan meninggikan derajat kita disisi Allah SWT - (Riyadhoh).

AMALAN SUNNAH HARIAN UNTUK MEMBERSIHKAN HATI:
· SHOLAT TAHHAJUD (DZIKIR MALAM)
· TADABBUR AL-QURAN
· SHOLAT FARDHU BERJAMAAH
· DZIKIR PAGI-PETANG
· MENJAGA PANDANGAN
· ISTIGHFAR (SHOLAWAT) SETIAP SAAT
· SHOLAT DHUHA
· SHODAKOH SETIAP HARI
· PUASA SUNNAT
· AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR




( IV)
TASFIYYAH AR-RUH
(MENGUATKAN RUH)

Setelah hasrat-hasrat jiwa (Hawa Nafsu) telah berhasil ditundukkan dan hati (Qolbu) senantiasa selalu dibersihkan, maka selanjutnya ruh (cahaya hidayah / iman) yang ada dalam hati manusia akan semakin dikuatkan (dimurnikan) dan bersamaan dengan itu setahap demi setahap hati akan terisikan oleh sifat-sifat yang terpuji (Akhlakul Karimah) - (Muroqobah).

Berikut beberapa sifat-sifat terpuji (Akhlakul Karimah) penting yang akan terisikan kedalam hati:
· AMANAH (Jujur dalam berkata dan berbuat)
· AFWU (Pemaaf, tidak mendendam)
· KHOIR (Kebaikan dalam setiap tindakan, perkataan atau perbuatan)
· KHAUF (Takut kepada Allah SWT)
· KHUSYU (Tekun sambil menundukkan diri dalam hati)
· GHUFRAN (Suka memberi maaf kepada orang lain)
· HAYAA-U (Malu melakukan perbuatan maksiat/dosa)
· HILMU (Menahan diri dari berlaku maksiat)
· IHSAN (Berbuat baik kepada sesama makhluk)
· DZIKRUL MAUT (Senantiasa mengingat mati)
· MUHASSABAH (Instrospeksi diri)
· Berani pada yang benar
· RAHMAH (Kasih sayang terhadap sesama makhluk)
· Menghormati orang lain
· Berbakti kepada orang tua
· DZIKRULLAH (Mengingat Allah sepenuh hati dengan menyebut Asma-asma Allah)
· ZUHUD (Tidak cinta/terikat pada dunia)
· SABAR (Mengekang hawa nafsu terhadap sesuatu yang menggelisahkan)
· TAWADHU’ (Ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya)
· TADLARRU’ (Merendahkan diri kepada Allah SWT)
· TAWAKKAL (Menyerahkan segalanya kepada kehendak Allah SWT)
· QANA’AH (Jiwa yang rela terhadap pembagian rizki yang telah ditentukan)
· TAQWA KEPADA ALLAH SWT (Mengerjakan seluruh perintah Allah dan menghentikan segala larangan Allah didalam seluruh aspek kehidupan)
· IKHLAS (Mengerjakan semua amal ibadah, kekuatan dan perbuatan semata-mata kepada Allah, untuk mendekatkan diri dan mendapatkan ke-ridoan-Nya)
· MAHABBAH (Kondisi yang dirasakan dari hati hamba Allah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata)
· RIDHA (Menerima segala ketentuan Allah meskipun bertentangan dengan keinginannya atau tidak disukai oleh hawa nafsunya)
· SYUKUR (Kesadaran bahwa semua nikmat yang ada pada diri seorang hamba adalah dari Allah sebagai karunia dan pemberian dari-Nya)



( V )
MAKRIFATULLAH
(Mengenal dan Meneladani Sifat-Sifat Allah)



Makrifatullah adalah cahaya yang telah dipancarkan Allah SWT di hati hamba-Nya sehingga dengan cahaya tersebut hamba Allah tadi bisa menyaksikan (Kasyaf) rahasia-rahasia kerajaan Allah di bumi dan di langit dan bisa mengamati sifat-sifat kekuasaan dan kekuatan Allah SWT. Setelah menjelajahi satu per satu sifat-sifat kekuasaan Allah SWT, selanjutnya hamba Allah tadi meneladani sifat-sifat Allah (Asmaul Husna) tersebut dalam kehidupan sehari-harinya sebagai wujud dari maksud dan tujuan penciptaan manusia itu sendiri yaitu sebagai Khalifatullah Fil Ard (sebagai wakil Allah di bumi) dalam menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di atas muka bumi ini.

No. Asmaul Husna - Nilai dan Aplikasi
1. Ar Rohman - Bersikap Mengasihi (bersifat umum)
2. Ar Rohim - Bersikap selalu menyanyangi (bersifat khusus)
3. Al Malik - Mampu menguasai diri
4. Al Quddus - Suci dalam berpikir dan bertindak
5. As Salam - Hidup sejahtera
6. Al Mu’min - Selalu dipercaya
7. Al Muhaimin - Mampu mengawasi (merawat) dan memelihara
8. Al ‘Aziz - Gagah dan Terhormat
9. Al Jabbaar - Selalu perkasa dan memiliki keperkasaan
10. Al Mutakabbir - Memiliki Kebesaran (hati dan jiwa)
11. Al Khooliq - Selalu mencipta/berkreasi
12. Al Baari’ - Merencanakan (visi) masa depan sendiri
13. Al Mushowwir - Selalu melukis, mendisain, dan mewujudkan impian (bersifat khusus)
14. Al Ghoffar - Selalu mengampuni orang lain
15. Al Qohhar - Memiliki kekuatan untuk menopang kebaikan
16. Al Wahhaab - Selalu memberi (sifatnya umum)
17. Ar Rozzaq - Selalu berbagi rezeki (praktek)
18. Al Fattaah - Selalu membuka hati orang lain (perintis dan pelopor)
19. Al ‘Alim - Selalu belajar dan berilmu
20. Al Qoobidi - Selalu mengendalikan sesuatu (positif)
21. Al Baasith - Selalu melapangkan jalan orang lain
22. Al Khoofidi - Merendahkan orang yang dzalim demi keadilan
23. Ar Roofi’ - Selalu meninggikan orang lain demi keadilan
24. Al Mu’izz - Selalu menjernihkan (dihormati)
25. Al Mudzill - Mencegah dan merendahkan orang-orang yang jahat demi keadilan
26. As Saami’ - Selalu mendengarkan dan memahami orang lain (empati)
27. Al Bashir - Selalu melihat dan memperhatikan orang lain
28. Al Hakam - Mengendalikan dan melakukan kontrol dengan baik
29. Al ’Adl - Selalu bersikap adil
30. Al Lathiif - Selalu bersikap halus kepada orang lain dan merasakan perasaan orang lain
31. Al Khoobir - Selalu berhati-hati
32. Al Haliim - Selalu penyantun dan lembut hati
33. Al ’Adhiim - Bersifat agung
34. Al Ghofuur - Selalu pemaaf (watak)
35. Asy Syakuur - Selalu berterima kasih kepada orang lain yang berbuat baik
36. Al ‘Aliyy - Menjadi orang yang bermartabat tinggi (sifat)
37. Al Kabiir - Memiliki kebesaran
38. Al Hafiidh - Selalu menjaga dan memelihara
39. Al Muqiit - Memperhatikan dan merasakan pengaduan orang lain
40. Al Hasiib - Selalu teliti dan cermat dalam segala hal
41. Al Jaliil - Memiliki pribadi yang luhur
42. Al Kariim - Selalu dermawan
43. Ar Roqib - Selalu mengawasi dan memantau
44. Al Mujiib - Selalu memperhatikan keinginan orang lain
45. Al Waasi’ - Memiliki wawasan yang luas
46. Al Hakiim - Bersikap bijaksana (sifat)
47. Al Waduud - Selalu simpatik dan penyiram kesejukan
48. Al Majiid - Selalu bersifat bajik kepada orang lain
49. Al Baa’its - Selalu membangkitkan motivasi orang lain
50. Asy Syahiid - Selalu menyaksikan sendiri segala sesuatu
51. Al Haqq - Selalu membela yang benar
52. Al Wakiil - Bisa dipercaya apabila memiliki amanat
53. Al Qowiyy - Memiliki kekuatan dan semangat yang tinggi
54. Al Matin - Selalu bersikap teguh hati dan kokoh
55. Al Waliyy - Selalu melindungi
56. Al Hamid - Selalu bersikap terpuji
57. Al Muhshiy - Selalu memperhatikan semua faktor dan semua sektor
58. Al Mubdi’ - Selalu memulai terlebih dahulu dalam berkreasi (berinisiatif)
59. Al Mu’iid - Mengembalikan sesuatu ke posisi semula demi keadilan
60. Al Muhyi - Selalu menghidupkan semangat orang lain
61. Al Mumiit - Mematikan suatu pikiran jahat orang lain
62. Al Hayy - Sering memberikan “kehidupan” kepada orang lain
63. Al Qoyyuum - Selalu bersikap tegar dan mandiri
64. Al Waajid - Melakukan sesuatu yang baru (inovasi)
65. Al Maajid - Bersifat mulia
66. Al Wahiid - Menjadi orang no. 1 di lingkungan sendiri
67. Al Ahad - Selalu menyatukan berbagai hal dalam satu kesatuan
68. Ash Shomad - Selalu dibutuhkan orang lain
69. Al Qodir - Memiliki kemampuan memadai
70. Al Muqtadir - Selalu membina orang lain agar memiliki kemampuan
71. Al Muqoddim - Mendahulukan sesuatu demi keadilan
72. Al Mu’akhkhir - Mengakhiri dan menghentikan sesuatu demi keadilan
73. Al Awwal - Bersikap selalu menjadi orang pertama (inventer)
74. Al Aakhir - Bersikap selalu menjadi orang terakhir (penutup) yang menentukan
75. Adh Dhohir - Memiliki integritas nyata dan jujur
76. Al Bathin - Selalu memperhatikan kondisi batiniah diri sendiri dan orang lain
77. Al Waaliy - Bersikap mendidik dan memberikan perlindungan kepada orang lain
78. Al Muta’aaliy - Memiliki ketinggian pribadi
79. Al Barr - Selalu jauh dari keburukan
80. At Tawwaab - Selalu mau menerima kesalahan orang lain
81. Al Muntaqim - Bersikap mengancam/memperingatkan orang yang keliru/dzalim demi menjaga kebaikan
82. Al ‘Afuww - Bersifat pemaaf
83. Ar Ro’uuf - Bersifat pengasih kepada yang menderita
84. Maalikul Mulk - Selalu berhasil di segala bidang
85. Dzul Jalaal Wal Ikrom - Bersikap agung, mulia dan terhormat
86. Al Muqsith - Adil dalam menghukum
87. Al Jaami’ - Selalu berkolaborasi dan bersatu
88. Al Ghoniyy - Kaya lahir dan batin
89. Al Mughniy - Memajukan orang lain
90. Al Maani’ - Selalu mencegah sesuatu yang buruk
91. Adh Dhaar - Sering menghukum demi keadilan
92. An Naafi’ - Memberi manfaat kepada orang lain dan sering memberi penghargaan demi keadilan
93. An Nuur - Selalu berilmu dan mulia
94. Al Haadii - Selalu menjadi orang yang suka membimbing
95. Al Badii’ - Selalu tampak indah, rapih, bersih dan menciptakan keindahan
96. Al Baaqi - Selalu memiliki segala sesuatu secara jangka panjang (memelihara)
97. Al Waarits - Mewarisi dan mendelegasikan
98. Ar Rosyiid - Selalu pandai dan cerdas
99. Ash Shobuur - Penyabar dan tidak tergesa-gesa


“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Q.S. An-Nur : 35)